SAAT si kecil terkena demam, batuk, pilek, atau muntah, hati orang
tua pasti langsung miris. Rasanya ingin cepat-cepat memberikannya obat,
karena tak tega melihatnya sakit. Tapi, jangan karena ingin
mengobatinya, kita langsung melirik obat-obatan yang dijual bebas atau
OTC (Over The Counter). Hal ini bisa mengakibatkan bahaya jika kita tak
tahu bagaimana cara menakar dosisnya. Jadi, pastikan buah hati kita
mendapatkan obat yang tepat dengan dosis yang tepat pula!
Berikut ini kiat-kiat memberikan obat kepada bayi
Dilarang Coba-coba!
Pada usia 1-12 bulan, kondisi bayi masih sangat sensitif. Langkah
terbaik, bila si kecil sakit, sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter
atau membawanya ke klinik atau rumah sakit terdekat.
Jika kita mencoba-coba berinisiatif memberikannya obat bebas tanpa
berkomunikasi dengan dokter, sama saja menaruh si kecil dalam bahaya.
Bisa-bisa obat yang diberikan berlebihan dan mengakibatkan over dosis,
yang lebih jauh bisa menimbulkan komplikasi yang dapat merusak hati dan
ginjal. Sebaliknya, jika kekurangan dosis, maka si kecil tidak akan
mendapatkan efek penyembuhan (terapetik).
Dosis Tepat, Gunakan Sendok Obat!
Karena itu, jangan mengira-ngira sendiri berapa dosis obat yang akan
diberikan untuk si kecil. Apalagi bila menakarnya dengan menggunakan
sendok yang ada di dapur.
Jika dokter menyebut sendok, yang dimaksud adalah sendok obat -sendok
takar yang memiliki ukuran. Jadi, bukan sendok makan atau sendok teh
yang berukuran lebih kecil! Jika tak punya, kita bisa menemukannya
dengan mudah di apotik terdekat.
Umumnya, untuk memperoleh dosis yang tepat, dokter akan menghitung
kadar dosis obat sesuai dengan berat badan si kecil. Belum tentu dosis
obat untuk anak Anda sama dengan anak teman Anda, walaupun usianya sama.
Pasalnya, setiap bayi berat badannya berbeda-beda.
Perhitungan Obat Secara Medis
Standar perhitungan dosis obat pada medis adalah per kilogram berat
badan anak. Misalnya, bayi usia 6 bulan dengan berat badan 6 kg
membutuhkan parasetamol (obat penurun panas) 3 x 1 hari. Biasanya dosis
parasetamol adalah 10 mg per kg berat badan. Sehingga dengan berat badan
6 kg itu, dibutuhkan parasetamol sebanyak 60 mg.
Satu sendok obat biasanya berukuran 5 cc, sama dengan 120 mg. Karena
membutuhkan 60 mg, maka parasetamol yang akan diberikan sebanyak
setengah sendok obat. Jadi perhitungan totalnya adalah setengah sendok
obat (sendok takar) 3 kali dalam satu hari. Dengan jeda waktu 8 jam per
satu kali minum obat.
Nah, yang bisa memperhitungkan dengan tepat dosis seperti itu adalah
dokter. Jadi, sangat dianjurkan agar Moms tidak memberikan obat untuk si
kecil dengan dosis sembarangan.
Bagaimana Bila Obat Dimuntahkan?
Karena rasa obat yang pahit, tak jarang si kecil memuntahkan kembali
obat yang sedang diminum. Jika mendapatkan obat puyer yang pahit, Moms
sebaiknya mendapatkan pemanis dari apotik. Sebelumnya tanyakan kepada
dokter, apa saja pemanis yang boleh ditambahkan ke dalam puyernya.
Biasanya berupa sirup manis. Jangan menambahkan madu, dikhawatirkan
terdapat jamur dalam madu tersebut!
Bila si kecil muntah sesaat setelah diberikan obat, kita bisa
memberikannya lagi dengan dosis yang sama. Kurang dari 30 menit, obat
belum terserap di dalam tubuh. Namun, jangan langsung diberikan saat itu
juga, tunggulah sekitar 10 menit setelah ia muntah.
Lain halnya bila ia muntah setelah 30 menit obat diberikan, tak perlu
diulang pemberian obatnya. Jadi, tunggu beberapa jam hingga jadwal
pemberian obat selanjutnya. Barulah ia boleh diberikan obat kembali
dengan dosis yang sama.
Perhatikan Warna Obat!
Sebelum kita memberikan obat puyer untuk si kecil, perhatikan benar
apakah obat itu sudah kadaluarsa atau belum, layak atau tidak.
Amati warna obat dalam kemasan kertasnya, apakah warnanya berubah.
Jika iya, maka kemungkinan obat sudah terkontaminasi dengan udara.
Masuknya udara pada obat bisa merubah khasiatnya. Sebaiknya Moms
menggantinya dengan obat yang baru.

No comments:
Post a Comment