Ketika mendengar obat generik, umumnya orang akan langsung
mengasumsikannya sebagai obat kelas dua, artinya mutunya kurang bagus.
Obat generik pun kerap dicap obat bagi kaum tak mampu. Benarkah asumsi
ini?
Faktanya tidak demikian. Kurangnya informasi seputar obat generik adalah
salah satu faktor penyebab obat generik dipandang sebelah mata. Padahal
dengan beranggapan demikian, selain merugikan pemerintah, pihak pasien
sendiri menjadi tidak efisien dalam membeli obat.Membeli obat tidak bisa
disamakan dengan membeli barang elektronik. Umumnya harga barang
elektronik sebanding dengan kualitasnya, dimana semakin mahal harganya
maka semakin bagus kualitasnya.Semua
obat baru, tentu harus dibayar tinggi untuk jasa penemuannya, yang
menjadi hak eksklusifnya. Namun, tidak semua penyakit yang pasien derita
memerlukan jenis obat baru.
Harga obat generik bisa ditekan karena obat generik hanya berisi zat
yang dikandungnya dan dijual dalam kemasan dengan jumlah besar, sehingga
tidak diperlukan biaya kemasan dan biaya iklan dalam pemasarannya.
Proporsi biaya iklan obat dapat mencapai 20-30%, sehingga biaya iklan
obat akan mempengaruhi harga obat secara signifikan.
Mengingat obat merupakan komponen terbesar dalam pelayanan kesehatan,
peningkatan pemanfaatan obat generik akan memperluas akses terhadap
pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah.
Orang sering mengira bahwa mutu obat generik kurang dibandingkan obat
bermerk. Harganya yang terbilang murah membuat masyarakat tidak percaya
bahwa obat generik sama berkualitasnya dengan obat bermerk.
Padahal generik atau zat berkhasiat yang dikandung obat generik sama
dengan obat bermerk. Harganya yang jauh lebih murah bukan karena mutunya
rendah, tetapi karena banyak faktor biaya yang dapt di pangkas dalam
produksi dan pemasarannya.“Orang kan makan generiknya bukan merknya,
karena yang menyembuhkan generiknya ” btulkan?
Jadi tidak ada alasan terutama bagi konsumen yang berkantong tebal untuk
ragu dan merasa ‘bersalah’ jika hendak memilih obat generik dengan
alasan penghematan. Apalagi dalam kondisi bangsa saat ini yang sedang
menderita kronis akibat permasalahan hukum, politik, ekonomi, dan
keamanan, di mana diperlukan kecerdasan seorang konsumen dalam memilih
pengobatan.

No comments:
Post a Comment